TIM JUARA

PERSIJA JAKARTA

SEJARAH JUARA PERSIJA
1938

Juara Tahun 1938 (VIJ)

VIJ mengalami pertandingan yang sengit ditahun itu dimana Jakarta harus menghadapi tuan rumah dari Persis Solo. Era ini VIJ diisi oleh pemain-pemain pribumi yang berasal dari klub-klub anggota VIJ saat itu seperti STER, Setia, Setiaki, Andalas, Tjahja Kwitang atau Sinar Betawi.

Tahun 1938 VIJ memperoleh gelarnya yang keempat. Gelar ini hadir setelah beberapa tahun sebelumnya VIJ tidak mengikuti Kampeonturnoi PSSI akibat mereka tidak sepaham dengan keputusan PSSI yang mensahkan P.P.V.I.M (Persatuan Perkumpulan Voetball Indonesia Meester Cornelis).

Jadi gelar juara di tahun 1938 ini adalah kembalinya gelar juara ke tanah Jakarta setelah menghilang dari tahun 1935, 1936 dan 1937.

V.I.J (PERSIJA) 3-1 Solo (Persis), di Sriwedari Solo

Gol VIJ : Soetjipto, Iskandar, Soetarno

Susunan Pemain V.I.J tahun 1938 :

Roeljaman; Moh. Saridi, A. Gani; Djaimin, Moestari, Soemarno; Soetarno, Soetjipto, Soetedjo; Iskandar, Oentoeng.

1954

Juara Tahun 1954

Kali ini Persija menjadi tim yang sangat diperhitungkan di Indonesia. Persija baru saja mengalami fase masuknya anggota V.B.O yang berbasis Indonesia ke dalam tubuh Persija. Adalah suatu kekuatan besar jika Persija banyak diisi oleh pemain-pemain hebat dari U.M.S , Cung Hwa (Tunas Jaya) atau B.B.S.A.

Tidak bisa dipungkiri, pemain-pemain handal milik U.M.S seperti Him Tjiang, Chris Ong, Van Der Vin, Djamiat Dalhar menjadi andalan Persija juga. Bukan hanya itu, Tan Liong Houw pemain hebat dari Cung Hwa (sekarang PS Tunas Jaya) juga ikut bergabung dengan Persija, belum lagi pemain-pemain asal klub-klub VBO dulu dan Persija sendiri.

Persija mengawali kompetisi dengan sangat sangat gemilang, kenapa gemilang? Karena tim dari Jakarta ini membantai kesebalasan dari Solo, Persis dengan skor 13-0! Pertandingan Persija vs Persis sebetulnya ada partai klasik dan partai big match pada masanya di era 30an. Tapi di era 50an ini Persija yang baru mendapat suntikan dari pemain-pemain asal VBO tampil sangat menggila.

Akhirnya Persija menjadikan tahun 1954 sebagai tahun juara yang kelima bagi perkumpulan sepakbola Jakarta ini. Pertandingan penentuan melawan PSMS Medan memang berjalan tidak seperti yang diharapkan, karena pihak Medan tidak mau melanjutkan pertandingan karena menilai pertandingan sudah berjalan berat sebelah. Saat ini Persija sedang unggul 2-1 lewat gol dari Hassan dan Hong Sing, walhasil setelah Medan tidak mau melanjutkan pertandingan, gelar juara pun kembali ke Ibukota Jakarta

1954

Juara Tahun 1964

Perjalanan Persija di tahun 1964 sangatlah spesial. Persija yang tampil buruk di awal era 60an, mengganti pelatih Wuwungan dengan pelatih UMS kala itu drg. Endang Witarsa. Dokter-sapaan Endang Witarsa, melakukan perubahan besar di tubuh Persija. Jika dulu di era Wuwungan Persija masih mengandalkan pemain-pemain senior macam Tan Liong Houw, R. Parengkuan, Bob Amundipujo, Bob Hippy atau Chris Ong, tapi kali ini Dokter dengan yakin memasukan anak-anak muda usia ke dalam tubuh Persja.

Nama-nama Soetjipto Soentoro, Kwee Tek Liong, Fam Tek Fong, Yudo Hadiyanto, Surya Lesmana, Reni Salaki, Didik Kasmara, Supardi atau Dominggus adalah pemain muda yang menjadi andalan Persija di kompetisi 1964. Pencapaian Persija terbilang hebat di tahun ini, bahkan yang terhebat dari sejarah Persija.

Persija menjuarai kompetisi di tahun 1964 dengan tidak terkalahkan satu pertandingan pun, bahkan Persija berhasil memiliki rekor kemasukan yang fantastis, 34-3 dan mencatatkan nama Soetjipto Soentoro sebagai pencetak gol terbanyak dengan 16 gol.

1973

Juara Tahun 1973

Persija seperti mengalami siklus 10 tahun juara, tapi kali ini Persija mampu merebut kembali gelar juara setelah hampir juara di Kompetisi tahun 1971. Skuad Persija 1973 banyak dinilai kalangan sebagai skuad yang lengkap untuk juara. Disitu bercokol pemain-pemain dengan kualitas wahid dan banyak pula diisi oleh pemain-pemain dari PS Jayakarta yang memang baru saja menjuarai Kompetisi Persija di tahun 1973.

Anjas Asmara, Sutan Harhara, Sofyan Hadi, Andi Lala, Oyong Liza, Iswadi Idris, I'im Ibrahim, Salomon Nasution, Arwiyanto, Widodo, Sumirta, AA Rake sampai Yudo Hadiyanto adalah kumpulan pemain hebat pada masa itu yang disatukan di Persija. Tentu dengan komposisi pemain bintang seperti ini, Sinyo Aliandu tidak kesulitan untuk meramu strategi Persija.

Persija harus berhadapan dengan Persebaya Surabaya dipertandingan penentuan gelar juara. Pertandingan adalah partai “Final” bagi Persija dan Persebaya, pertandingan ini sangat menentukan siapa juara PSSI tahun 1973 ini.  Pertadingan “Final” yang mempertemukan rivalitas antara Jakarta dan Surabaya, berlangsung sangatlah keras untuk ukuran olahraga sepakbola. Terjadi tawuran antara pemain Persija dengan para pemain Persebaya, tawuran massal ini menurut Koran Merdeka tahun 1973 dimulai belum lama saat babak pertama dimulai. Kejadian yang diakibatkan karena salah satu pemain Persija, yaitu Sutan Harhara memotong kaki dari pemain Persebaya, yaitu Abdul Kadir, memancing amarah pemain-pemain Persebaya.

Kericuhan ini mengakibatkan pertandingan dihentikan selama 10 menit setelah kedua belah pihak sepakat melupakan kejadian adu jotos itu. Perlu diketahui juga, penonton saat itu sangat membludak. Hampir tidak ada bangku kosong di dalam stadion bahkan banyak pula yang berdiri dan juga tidak masuk ke dalam stadion.

Setelah kericuhan tersebut, akhirnya Persija dan Persebaya kembali bermain. Setelah dikurung berjam-jam oleh Persebaya, suatu umpan terarah dari Risdianto mampu dimanfaatkan oleh Andi Lala untuk menjebol gawang Persebaya yang dikawal oleh Harry Tjong. Persija mampu merebut gelar juara tahun 1973 lewat gol tunggal Andi Lala, dan itu adalah hadiah juara bagi warga kota Jakarta.

1975

Juara Tahun 1975

Tahun 1975, tahun yang sangat berarti sebetulnya bagi warga kota Jakarta, karena di tahun itu Persija merebut gelar kedelapannya di kompetisi nasional PSSI. Tahun 1975 bisa jadi ajang kompetisi yang panjang pada masanya, saat itu Persija masih menjadi tim yang disegani dengan kompetisi internal yang bisa dibilang bintang lima.

Sebelum kompetisi dimulai para pemain dari klub-klub anggota Persija bersaing untuk mendapatkan tempat di tim Persija. Sebagai juara bertahan (karena kompetisi 1974 tidak diadakan) tentu persiapan Persija tidak main-main, beberapa pemain yang membawa Persija juara juga dipanggil kembali dari klub masing-masing, bahkan Iswadi Idris pun yang baru kembali dari Australia, langsung dimasukan oleh manajer Persija saat itu, Brigjen Pattisina, untuk menghadapi kompetisi ini.

Sebanyak 30 pemain beberapa diantaranya adalah bintang Persija di tahun 1973 akan membela Persija di Kompetisi Nasional PSSI 1975. Di beberapa media massa persiapan Persija ini diekspose secara besar-besaran. Gubernur DKI kala itu, Ali Sadikin, menyebut ke 30 pemain itu harus bisa menjalankan misi Jakarta lewat sepakbola artinya Persija harus bisa mempertahankan gelar juara.

Partai final Persija vs PSMS, Jakarta vs Medan, partai yang sangat ditunggu-tunggu oleh para penikmat sepakbola Indonesia. Animo penonton betul-betul sangat tinggi, bahkan di koran Pelita edisi 10 Noveember 1975, penonton kalah itu mencapai 125.000 orang. Kedua tim sudah pasti sangat memburu kemenangan, terlebih lagi Persija yang mengemban misi kota Jakarta yaitu mempertahankan gelar juara 1973.

Persija tertinggal terlebih dahulu setelah Nobon mampu membobol gawang Sudarno. Permainan yang meningkat keras, bahkan menjurus kasar. Ditengah permainan yang kasar tersebut, Sofyan Hadi berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 hasil umpan dari Iswadi Idris. Tapi beberapa pelanggaran keras dari pemain kedua tim menyulut emosi. Keadaan makin buruk ketika karena wasit Mahdi Talib terlihat kewalahan dan tidak tegas dalam pertandingan ini.

Perkelahian antar pemain pecah di lapangan dan itu membuat Bardosono selaku Ketua Umum PSSI mengeluarkan keputusan untuk menjadi Persija dan PSMS juara bersama. Kedua tim sempat menolak, bahkan kubu Medan pun tampak kecewa tapi keputusan sudah dibuat dan hasilnya sejarah tercipta dengan adanya juara bersama di kompetisi tertinggi Indonesia. Jakarta dan Medan juara.

1979

Juara Tahun 1979

Setelah gagal mempertahankan gelar di Kompetisi 1977/1978. Persija kini mulai memikirkan untuk bisa merebut gelar juara di kompetisi 1978/1979. Untuk itu mereka diperkuat pemain-pemain senior dan disiplin pemain muda. Ditahun ini pula Endang Tirtana dan Rully Nere mulai bermain untuk Persija.

Saat itu Persija dilatih oleh Marek Janota yang berkebangsaan Polandia. Selama dilatih oleh Marek, tegas adalah kata yang pas untuk Persija ditahun tersebut. Namun tak jarang pulang para pengamat sepakbola pada era itu sedikit mempertanyakan keputusan Janota yang mengeluarkan pemain senior Iswadi di putaran kedua kompetisi 1978/1979 ini.

Namun Persija akhirnya mampu meraih gelar juara ke-9 di Kompetisi Divisi Utama tahun 1979 setelah di pertandingan penentuan, anak-anak Jakarta berhasil mengalahkan rival mereka, PSMS Medan dengan satu-satunya gol yang dicetak oleh Andi Lala di menit ke-64.

2001

Juara Tahun 2001

Setelah hampir berpuasa gelar juara selama 22 tahun lamanya, akhirnya Persija kembali merasakan gelar juara di tahun 2001. Persija yang kala itu telah berganti warna menjadi orange, menjadi tim yang benar-benar difavoritkan menjadi juara. Materi pemain kala itu memang bukan terbilang sebagai materi yang “wah” tapi jika melihat kedalam skuad, maka bisa dibilang di setiap lini Persija mempunyai pemain yang tepat.

 Revolusi Persija terjadi ketika Bang Yos-pembina Persija saat itu-mulai datang ke Persija. Bang Yos mempunyai ambisi besar untuk membawa Persija kembali juara. Di tahun ini pulalah, Persija mempunyai bintang muda bernama Bambang Pamungkas. Persija saat itu dilatih oleh Sofyan Hadi, yang juga kapten Persija juara di tahun 1979.

 Tim komplet Persija melaju kencang dibabak grup dan juga 8 besar yang mengharuskan Persija bermain di Makassar. Bermain di Makassar tidak meruntuhkan semangat juang anak-anak Jakarta, bahkan tuan rumah pun harus mengakui kehebatan sepakbola Jakarta di Mattoangin. Persija akhirnya melaju ke semifinal Liga Indonesia.

Di semifinal Persija mengalahkan salah satu rival mereka, Persebaya Surabaya dengan skor 2-1. Jakarta kembali bertemu dengan PSM Makassar dan kembali mengalahkan mereka dengan skor 3-2. Gelar juara ke-10 akhirnya mendarat ke Jakarta dan menjadikan Persija sebagai tim yang paling banyak mengoleksi gelar juara di Indonesia.

2018

Juara Tahun 2018

T

Tahun 2018 menjadi tahun yang akan terus diingat oleh Persija Jakarta serta the Jakmania. Di musim 2018, Macan Kemayoran berhasil meraih pencapaian tertinggi dalam sejarah klub.

Total, Persija Jakarta berhasil mengumpulkan tiga trofi juara pada musim 2018, yakni satu trofi liga dan dua trofi turnamen pramusim. Prestasi yang luar biasa bagi Ismed Sofyan dkk pada tahun tersebut.

Tahun gemilang ini diawali dengan kesuksesan menjuarai Boost SportsFix Super Cup 2018. Dalam turnamen pramusim di Malaysia yang diikuti tiga klub di kawasan Asia Tenggara, yakni Ratchanburi FC (Thailand), Kelantan FA (Malaysia), dan Persija Jakarta (Indonesia), anak asuh Stefano Cugurra berhasil keluar sebagai juara.

Mereka berhasil menjadi juara usai unggul selisih gol dari dua pesaingnya. Ketiga tim memang mencatatkan poin yang sama yakni tiga poin dari satu kali menang dan satu kali kalah. Akan tetapi tim asal Jakarta ini mencatatkan selisih gol lebih banyak dibandingkan Ratchanburi FC dan Kelantan FA.

Lalu trofi berikutnya diperoleh dari turnamen pra musim yang diselenggarakan di dalam negeri, Piala Presiden 2018. Persija Jakarta menjadi juara setelah mengalahkan Bali United di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan skor telak 3-0. Striker asing mereka, Marco Simic, juga menyabet gelar top skor dengan 11 gol.

Akhirnya tahun yang manis ditutup dengan gelar juara GO-JEK Liga 1 2018. Mereka memastikan diri sebagai juara setelah pada laga pamungkas mengalahkan Mitra Kukar dengan skor 2-1 pada Minggu, 9 Desember 2018 lalu.

Raihan tiga poin pada pertandingan itu membuat Persija kokoh di puncak klasemen akhir Liga 1 dengan mengoleksi 62 poin dari 34 laga. Raihan itu unggul satu poin di atas PSM Makassar yang pada laga lainnya menaklukkan PSMS Medan dengan skor 5-1 di Stadion Andi Mattalata, Makassar.

Dari catatan perjalanan Persija merebut gelar, mereka berhasil meraih 18 kemenangan, delapan imbang, dan delapan kali kalah. Persija menjadi tim dengan catatan kemenangan terbanyak pada musim ini, unggul satu kemenangan atas PSM.

Keberhasilan Persija meraih kemenangan pada laga tandang jadi kunci “Macan Kemayoran” meraih poin tertinggi. Dari 17 laga tandang, 25 poin berhasil dikumpulkan lewat tujuh kali menang, empat imbang, dan enam kali kalah.

Keunggulan enam poin pada laga tandang itulah yang membuat Persija mampu mengungguli PSM meski kalah dalam catatan kemenangan kandang. PSM menjadi jago kandang setelah meraih poin tertinggi di stadion mereka, 42 poin. Disusul Arema FC dengan 39 poin. Persija di urutan ketiga dengan 37 poin. Sepanjang musim ini, Persija memang terkendala dalam menggelar laga kandang karena sering berpindah-pindah.

Persija juga menjadi tim dengan lini pertahanan terkuat. Ismet Sofyan dan kawan-kawan berhasil mencatatkan sebagai tim yang paling sedikit kemasukan gol, yakni hanya 36 gol. Dengan 53 gol yang dijaringkan, Persija mencatatkan selisih gol tertinggi, 17 gol.

Gelar ini jadi yang kesebelas sekaligus menghapus dahaga selama 17 tahun. Mengingat 17 tahun bukan waktu yang sebentar sebagai sebuah penantian. Kesabaran kelompok suporter The Jakmania

PRESENT

LEGENDA PERSIJA

-

-

-

-

-

-

-

-

-

SPONSOR

MITRA PERSIJA

CSR

CSR

TOP