SUKSMA ANGELO
SUKSMA ANGELO

Cuaca Jakarta buruk sekali. Hujan deras disertai angin badai. Pesawat yang ditumpangi mencoba mendarat. Tapi begitu angin kencang menerpa, pesawat goyang dan terpaksa naik lagi. Beberapa putaran dilakukan sambil menunggu cuaca lebih kondusif. Guncangan kencang membuat penumpang berkebangsaan Rusia yang duduk di sebelah Angelo Alessio lari ke toilet. Tampak salah satu mesin pesawat di sebelah kanan mulai mengeluarkan asap hitam. Ketegangan semakin menjadi saat beberapa penumpang mulai mengucapkan doa dan teriakan. “Allahuakbar, Allahuakbar”. 

Saya ikut tegang mendengarkan cerita Coach Alessio. Saat itu ia meninggalkan Bali memenuhi panggilan Presiden Klub, Mohamad Prapanca, untuk melakukan pembicaraan di Kantor Persija. Tak lama kemudian Pak Panca-pun datang. Saya kembali ke meja kerja melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda sebentar. Dari meja, saya bisa melihat suasana santai pembicaraan antara 2 orang penting yang saat ini paling banyak disorot oleh The Jakmania. Tidak terlalu lama mereka bicara, dan karena keduanya memang seorang profesional sejati, tidak ada raut wajah tegang dari mereka. Sama-sama menyadari keputusan yang dibuat murni pertimbangan profesional. 

Pertama kali bertemu Alessio ketika ada acara jamuan makan malam di rumah Pak Panca di daerah Kemang. Ketika sampai di penghujung acara, Alessio minta diberikan waktu untuk bicara. Dengan semangat dia meminta kerjasama pemain agar mau kerja keras bersamanya untuk meraih prestasi. Saya terkesan. Orang ini punya rasa tanggung jawab yang besar. 

Dalam perjalanannya, dia juga berani memberikan kepercayaan pada para pemain muda. Satu persatu diturunkan di beberapa pertandingan. Kesempatan langka yang tentunya tidak disia-siakan oleh pemain muda Persija. Adrianus Dwiki, Alfriyanto Nico dan Braif Fatari semakin terasah. Muncul lagi nama baru seperti Doni Pamungkas, Rio Fahmi dan Rangga Widi. Semakin meningkatnya kontribusi anak muda, menimbulkan konsekwensi baru. 7 pemain muda Persija dipanggil Garuda Muda! 


Tapi ini Persija. Butuh lebih dari sekadar kejutan untuk aman di kursi pelatih. Apalagi di putaran kedua, masuk lagi 7 pemain baru untuk melengkapi squad yang ada. Dan seri 4 menjadi masa pengadilan. Perjalanan Alessio bersama Persija selesai sudah. Tongkat estafet pelatih langsung diberikan pada Asistennya, Sudirman. Keputusan yang saya anggap tepat. Memang beberapa nama sempat mencuat di kalangan netizen sebagai pengganti. Tapi mendatangkan Luis Milla atau Edson Tavarez tentunya butuh waktu lagi. Mulai dari negosiasi hingga kewajiban karantina. Belum lagi adaptasi pemain dengan strategi pelatih. Sementara kompetisi tinggal menyisakan waktu 2 bulan lagi. 

Sudirman bukan orang baru di Persija. Satu Piala Menpora sudah dipersembahkannya. Sikapnya yang tegas juga sudah terbukti ketika dia berani mencadangkan seorang Marko Simic dan memberi kesempatan kepada Taufik Hidayat. Keputusan yang cerdas karena kerjasama Taufik dengan Braif berhasil membobol gawang Persib sampai 2 kali. Tugas Coach Dirman - Panggilan Akrab Sudirman -  kali ini gampang-gampang susah. Gampang karena dia dan mayoritas pemain sudah saling kenal. Susah karena ia memulai di separuh jalan, sedangkan tuntutan terhadap tim ini masih sangat besar. 

Pemain Ke-12 menanti dengan berdebar-debar. Sama tegangnya ketika mereka menunggu kepastian apakah partai berikutnya boleh disaksikan penonton. Apapun keputusannya nanti, dukungan ekstra tentunya diharapkan. Kita bangkit bersama. Puzzle terakhir itu sebetulnya Pemain Ke-12. Tapi selama kalian belum bisa ke tribun, bukan berarti dukungan tidak berjalan. Kreativitas yang selama ini kalian pertontonkan, membuat saya yakin kalian akan memberikan dukungan dengan cara lain yang bisa membangkitkan semangat pemain di lapangan. 

Terima kasih Angelo

Selamat bekerja Sudirman

Tetap semangat The Jakmania.

Tulisan ini milik Ferry Indrasjarief, Manajer Fans & External Relations Persija sekaligus mantan Ketua Umum The Jakmania.